MENJADI GURU YANG BAIK, BISAKAH?

Bismillahirrahmanirrahim

Saya akan mencoba mengemukakan pendapat saya tentang guru yang sekarang eksistensinya itu mulai pudar sebagai sesosok orang yang berjasa. Semoga bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. ^_^

 

Seperti layaknya sayur tanpa garam yang rasanya hambar, pendidikan diumpamakan seperti garam, yakni hal yang terpenting untuk kemajuan suatu bangsa. Tanpa adanya pendidikan baik itu formal maupun informal, pasti bangsa tersebut akan punah dengan sendirinya karena termakan oleh jaman.

Guru sebagai pendidik dan penerima tanggung jawab dari orang tua untuk mendidik anak dalam konteks formal. Tanggung jawab dari orang diterima guru atas dasar kepercayaan, bahwa guru mampu memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan peserta didik diharapkan pula dari pribadi guru memancar sikap-sikap dan sifat-sifat yang normatif baik sebagai kelanjutan dari sikap dan sifat orang tua pada umumnya.

Akan tetapi disaat sudah menjabat sebagai guru, kebanyakan ucap sumpah guru itu hanya terbatas dari mulut, tak mengena kedalam hati. Dan sekarang kita bisa melihat dampak dari semua itu. Guru bukan lagi menjadi pembantu mewujudkan cita-cita, akan tetapi kini guru menjadi perusak cita-cita. Memang tak semua guru seperti itu, tetapi kebanyakan sudah seperti itu. Contoh ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, beberapa guru merokok dan mengopi dikelas, tidak memperdulikan kesehatan anak didiknya. Disaat menjelang UN beberapa guru malah memberikan tugas yang menumpuk, padahal itu adalah masa-masa tenang seorang siswa untuk me-review kembali pelajaran dari semester I. Lalu ada guru yang hanya menerangkan materi saja tapi siswa tersebut kurang paham, mungkin papan tulislah muridnya sehingga muridnya sendiri terabaikan.

Pertanyaan besar yang masih terngiang dalam otak adalah bagaimana supaya kita calon pendidik tak terjerumus menjadi guru yang membuat generasi muda nantinya menjadi sampah negara yang tidak bisa berbuat apa-apa? Lalu, kriteria menjadi seorang guru yang baik itu apa saja?

Saya akan mencoba mengemukakan pendapat kami mengenai kriteria  menjadi guru yang baik.

  1. Kasih sayang tulus

Kriteria ini adalah dasar dari kriteria lainnya. Seorang guru harus menunjukkan rasa kasih sayang kepada anak didiknya. Jangan mentang-mentang sudah menjadi guru bisa seenaknya saja berperilaku. Menjadi guru itu amanah yang harus dipenuhi. Siswa apabila sudah senang dengan guru pengajarnya pasti senang juga pada pelajaran yang diajarkannya. Nah ini bisa menjadi penunjang siswa tersebut mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa meraih cita-citanya.

  1. Dapat memberi pengertian dan contoh

Ada sebuah pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, anak kencing berlari”. Dari pepatah itu bisa kita ambil maknanya bahwa perilaku guru pasti ditiru bahkan melebihi. Ada guru yang terlambat, siswa juga ikut terlambat, bahkan keterlambatannya itu melebihi gurunya. Apabila kita bercita-cita ingin anak didik kita disiplin, maka displinlah. Apabila ingin rajin, maka rajinlah.

Memberi pengertian itu penting supaya anak menjadi tidak salah paham dengan apa yang kita ajar. Biasanya siswa selalu berspekulasi terhadap hal yang kita bicarakan. Maka berhati-hatilah dalam berbicara.

  1. Kesabaran, ketegasan, keuletan

Sabar merupakan tiangnya kehidupan. Kehidupan seseorang tanpa kesabaran pasti hidupnya serba amburadul atau berantakan. Begitu pula dalam konteks pendidikan. Apabila seorang guru tak sabar menghadapi anak didiknya, pasti guru itu akan marah dan ujung-ujungnya anak trauma sehingga tak mau belajar lagi. Apakah itu yang anda mau? Membuat anak menjadi tak ingin bersekolah lagi? Memang ketegasan diperlukan, akan tetapi jangan sampai membuat siswa menjadi trauma. Ilmu pengetahuan itu penting dan keuletan penting, supaya bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak didik.

  1. Jangan memberatkan

Guru itu adalah pembantu mewujudkan cita-cita, jangan sampai memberi tugas yang tidak ada untungnya dan memberatkan. Yang wajar-wajar saja.

Raih Tangannya, Wujudkan Citanya!

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya akan mencoba mengemukakan pendapat saya mengenai pandangan islam dalam menyikapi disabilitas. Semoga artikel yang saya buat ini bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. Amin.

 

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka)… Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah ) dari rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya (yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri), salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (Q.S An-Nur 24:61)

 

Didalam ayat ini jelas bahwa islam tidak membeda-bedakan seorangpun walau mereka tidak seperti kebanyakan orang seperi biasanya. Seperti semboyan negara kita yaitu Bhineka Tunggal Ika “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Islam tak mengajarkan siapa yang berbeda mereka harus dihiraukan. Justru dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk merangkul mereka dan berbuat baik serta member salam kepada mereka.

Pernah suatu ketika Rasulullah SAW berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Kemudian datanglah Ibnu Ummi Maktum (Abdullah bin Ummi Maktum), seorang sahabat yang buta dan berharap agar Rasulullah SAW membacakan kepadanya ayat-ayat Al Qur’an yang telah diturunkan. Tetapi Rasulullah SAW bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum. Kemudian Allah menurunkan Surat ‘Abasa sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap Abdullah bin Ummi Maktum.

 

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali janganlah (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan adalah suatu peringatan.”(Q.S ‘Abasa 80:1-11)

 

Lagi-lagi Allah SWT memerintahkan kepada kita agar jangan mengabaikan atau meremehkan seseorang yang memiliki kekurangan, baik fisik maupun psikologi. Memiliki anak disabilitas bukanlah sebuah “kutukan” atau sebuah “aib”. Pada dasarnya mereka sama dengan anak-anak lainnya, mempunyai kekurangan dan kelebihan.

 

Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl: 90)

 

Rasulullah SAW bersabda, “Orang orang sebelum kalian telah hancur; karena apabila mereka yang terhormat mencuri, mereka akan membiarkannya, tetapi apabila ada orang lemah yang mencuri, mereka menerapkan hukum kepadanya.” (HR Al-Bukhari)

 

“Jika seorang anak diperlakukan karena kekurangannya, maka dia tidak akan mampu mengatasi masalahnya dengan lebih baik bahkan akan cenderung makin “mengkerdilkan” diri, tapi jika anak tersebut diperlakukan karena kelebihannya, dia akan lebih mampu untuk menghargai diri dan berkembang maksimal dengan kelebihannya itu.“ Apakah hanya karena kekurangan, mereka dikucilkan, dipasung, dan diasingkan? Sehingga mengorbankan kesenangan, keceriaan, dan kebahagiaan mereka bermain dan bercanda tawa ditempat yang kita pijak ini? Ingatlah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita supaya kita selalu berbuat kebaikan dan adil di setiap menghadapi masalah.

Saudaraku yang baik hatinya, saya mohon raihlah tangannya dan wujudkan impiannya. Karena kalau bukan dimulai dari diri kita sendiri sebagai calon pendidik, siapa lagi yang akan membantu mereka mewujudkan impiannya dan menggiring mereka ke langkah yang lebih jauh lagi?

Biarlah orang awam berpikir bahwa kita adalah orang “gila” yang berani-beraninya mengajar anak-anak yang “aneh”. Karena Allah SWT berfirman :

 

“… Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath 48:29)

 

Cantiknya iman seseorang dilihat dari perbuatannya dan pengabdiannya hanya karena Allah SWT. Semoga kita semua dilindungi oleh-Nya dan diberi kekuatan untuk menghadapi segala cobaan yang berdatangan. Amin.

 

 

 

 

 

Bergaulah Dengan Al-Qur’an!

Muslimahzone.com– Sebagai seorang wanita muslimah yang telah Allah karuniakan hidayah maka sepatutnya menjaga hidayah itu agar terus tertanam kokoh dalam hati kita bahkan mungkin bertambah kuat.Semua itu memang tak lepas dari usaha dan do’a kita kepada-Nya agar kita tetap istiqomah di jalan-Nya sungguh jalan menuju kepada ketaatan bukanlah jalan yang mudah…akan ukhti temui onak dan duri perintang yang siap menerjang dan menusuk kita .Salah satu perisai yang akan menjaga agar hidayah yang kita peroleh itu tetap kokoh adalah dengan banyak membaca Al-Qur’an, memahami isinya,mentadaburinya,merenungkannya dan selanjutnya berusaha untuk mengamalkannya.

Ukhti muslimah…Sungguh kekuatan cahaya Al-qur’an tidak disangsikan lagi ,..ia akan membawa pembacanya kepada keta’atan, ketenangan dan kedamaian.Allah Ta’ala telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat didunia dan tidak akan celaka di akhirat nantinya,dengan berdasarkan firman-Nya:

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”(Thaha:123)

Kita hidup pada suatu zaman yang penuh dengan kemaksiatan setiap detiknya dimana mata kita melirik maka kita akan selalu dibenturkan dengan pemandangan yang membuat kita jauh dari Allah,jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya.Akan ukhti rasakan betapa asingnya kita hidup didunia ini. Bila kita tidak kuat-kuat menjaga agama kita maka sungguh kita akan mudah tergelincir dan terperosok dalam kubangan dosa dan maksiat .
Hanya kepada-Nyalah kita meminta pertolongan…

Karena itulah kita harus banyak bergaul dengan Al-Qur’an menyibukkan diri kita dengannya. Mungkin ukhti sudah cukup sibuk dengan urusan dunia yang menyita banyak waktu ukhti,..pernahkah terbersit dalam fikiran kita untuk mempelajari kalamullah?karena sungguh mempelajarinya adalah sebaik-baik kesibukan. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits Qudsi :

“Barangsiapa yang disibukkan Al-Qur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.”(HR.Tirmidzi)

Sungguh suatu kesibukan yang sangat mulia dan perlu untuk ukhti muslimah ketahui bahwa keutamaan membaca Al-Qur’an sangat banyak sekali sebagaimana yang termaktub dalam beberapa hadits berikut ini:

“Bacalah Al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya”(HR.Muslim dari Abu Umamah)

“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an:”Bacalah, naiklah dan bacalah dengan tartil sebagaimana yang telah kamu lakukan didunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca”(HR.Abu Daud & Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih)

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR.Tirmidzi, hadits hasan shahih)

“Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala”(Hadits mutatafaq Alaih).

Setelah ukhti muslimah menyimak beberapa hadits diatas tentunya akan bertambah semangat dalam membacanya.Suatu ganjaran yang sangat besar yang membuat hati kita tergiur untuk meraihnya bukan?…kita tidak akan bermalas-malasan lagi bahkan mungkin akan menjadi bacaan pavorit dan mengganti bacaan lain yang tidakbermutu seperti majalah-majalah artis/model yang sama sekali tidak mengajak pembacanya untuk taat dan takut kepada Allah bahkan menjerumuskan pembacanya kepada kemurkaan-Nya.

Semakin banyak kita bergaul dengan Al-Qur’an maka akan semakin bertambah keimanan kita yang dimana keimanan inilah yang akan membimbing kita kepada keta’atan sehingga sangat mudah bagi kita untuk istiqomah dalam mengamalkan syariat islam ini.Dengan istiqomahnya keimanan kita maka setiap saat kematian atau maut datang menghampiri kita maka hati kita tidak akan khawatir ataupun takut karena yakin akan datangnya pertolongan Allah ,karena sungguh untuk mati dalam keadaan islam bukanlah perkara yang mudah bila kita tidak mempersiapkannya dari sekarang coba ukhti simak firman Allah ta’ala yang memerintahkan kita untuk mati hanya dalam keadaan islam:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam” (Ali –Imraan ayat:102) …lalu kapan lagi kita akan siap..masihkah hati kita terus terlena dengan kemaksiatan dan kesibukan lain yang menjauhkan diri kita dari Al-Qur’an dengan alasan masih mudanya usia kita ,..sedangkan dengan mata kepala kita sendiri kita saksikan berapa banyak orang yang mati diusia muda???!!

Maraji:
1.Al-Qur’anul Karim
2. Jati diri wanita muslimah, hal:97-99, Pustaka Al-Kautsar
3. Risalah Ramadhan,hal:51-55,Darul Haq

Mentimun, Obat Alami Istri Nabi

Selama ini, mungkin, kita hanya tahu mentimun sebagai sayuran dan pelengkap makanan. Padahal, banyak manfaat yang dikandung oleh sayuran ini, baik untuk kecantikan maupun kesehatan. Berikut ini pemaparannya sebagaimana pernah dimuat dalam Majalah Hidayatullah.

Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk kesehatan. Biasanya, mentimun dikombinasi dengan kurma segar untuk menjaga kesehatan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering melakukannya.

Dari Aisyah bahwasanya, “Rasulullah sering makan mentimun dicampur dengan kurma basah.” (Riwayat Tirmidzi)

Selain untuk menjaga kesehatan, kombinasi keduanya juga untuk meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus ceking menjadi lebih berisi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘anha (RA) ketika hendak dipertemukan dengan Rasulullah SAW, rutin mengonsumsi mentimun dan kurma basah untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Maklum, ketika itu tubuhnya kecil dan kurus.

Aisyah berkata, “Ibuku mengobatiku agar aku kelihatan gemuk, saat dia hendak mempertemukan aku dengan Rasulullah, dan usaha itu tidak membuahkan hasil sehingga aku memakan mentimun dengan kurma basah. Kemudian aku menjadi gemuk dengan bentuk yang ideal.” (Riwayat Ibnu Majah)

Selain itu, mengonsumsi kurma dan mentimun bisa memperbesar ukuran payudara bagi kaum wanita.

Dalam ilmu pengobatan Islam, sayur yang memiliki nama ilmiah cucumis sativus ini dikenal dengan nama qitsa’ atau khiyar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut sayuran ini dalam surat Al Baqarah: 61.

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”.

Hasil penelitian modern menyebutkan bahwa mentimun mengandung 0,65% protein, 0,1% lemak, dan 2,2% karbohidrat. Selain itu, juga mengandung zat bermanfaat lain, seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.

Karena banyak mengandung bahan penting itu, mentimun sangat baik digunakan sebagai tonik (menjaga kesehatan). Selain itu, ia juga bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Jus mentimun bersifat mendinginkan badan dan menurunkan panas pada saat demam. Juga menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, serta menyehatkan saluran pencernaan.

Ia juga merupakan peluruh kencing yang baik, sementara irisan mentimun yang dikompreskan pada kelopak mata saat terpejam, dapat menghilangkan noda hitam pada kantung mata akibat kurang tidur.

Masker wajah dengan mentimun yang dihaluskan merupakan ramuan alami untuk meremajakan sel-sel kulit wajah agar tetap awet muda dan mencegah keriput. Sementara bila secara teratur dioleskan/dibalurkan pada pangkal paha atau bagian pantat, bisa berkhasiat menghilangkan selulit.

Beberapa khasiat lain dari mentimun juga dibahas dalam beberapa Hadist Nabi maupun dalam Al Qur`an yang pada dasarnya berkhasiat untuk kesehatan, kebugaran, dan kecantikan. (hidayatullah)

Rasa Malu? Pentingkah?

Hampir diseluruh dunia sepakat bahwa wanita selalu menjadi ikon tunggal kecantikan dengan akumulatif apresiasinya terhadap wajah serta tubuh yang indah. Apresiasi ini mungkin tidak salah, karena secara fitrah wanita hadir dengan sosok yang lembut dan indah. Dari sosok seperti inilah maka sepantasnya muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Mengapa harus Malu?

Rasa malu adalah sifat yang mulia. Rasa malu, seluruhnya adalah kebaikan. Rasulullah SAW merupakan profil yang menjadi panutan dan tauladan dalam perihal rasa malu. Bahkan sampai disebutkan bahwa beliau lebih pemalu dari gadis pingitan yang berada dalam kamarnya. Rasa malu adalah akhlak yang mulia, akhlak yang dimiliki oleh orang-orang yang baik. Setiap orang yang memiliki rasa malu niscaya akan tercegah dari perkara-perkara yang buruk dan jelek yang dimurka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta dibenci oleh manusia.

Rasa malu itu sendiri terbagi dua (berdasarkan cara terbentuknya, red), yaitu :

Ada rasa malu yang menjadi sifat pembawaan atau tabiat yang merupakan karunia dan pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini diistilahkan dengan rasa malu yang tidak diupayakan. Bisa jadi ada sebagian orang yang meninggalkan perkara-perkara yang buruk dan jelek bukan karena dia paham dan komitmen kepada agamanya. Akan tetapi lebih disebabkan rasa malu untuk melakukannya. Sehingga dia meninggalkannya bukan karena dorongan agama tapi disebabkan faktor rasa malu yang memang Allah ciptakan pada dirinya. Tabiat ini merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dilimpahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha memiliki keutamaan yang besar.

Pada zaman ini kita masih banyak melihat para muslimah yang masih menghadirkan rasa malu untuk tidak berbuat maksiat, mengumbar aurat, suara atau gerak tubuhnya di depan khalayak yang tak pantas melihat dan mendengarnya. Muslimah seperti inilah yang Allah hadirikan didalam dirinya rasa malu sebagai Rahmat dari-Nya.

Rasa malu yang kedua adalah rasa malu yang bisa diupayakan (dibentuk dengan usaha khusus, red). Maksudnya adalah rasa malu yang lahir karena seseorang selalu merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu bisa tewujud karena mengenal dzat Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat Nya yang Maha Mulia dan Agung. Dia malu kalau Allah melihatnya berbuat keburukan dan kejelekan. Maka dia berupaya menghindari perkara-perkara yang buruk dan jelek disebabkan rasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun secara tabi’at dan watak, dia bisa dan mungkin biasa melakukan keburukan dan kejelekan tersebut. Ini namanya rasa malu yang diupayakan dan yang dimaksud oleh sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam:

“Rasa malu itu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Muslimah yang berilmu akan menghiasi dirinya dengan malu kapan dan dimanapun ia berada, dengan Ilmu yang ia mampu mengolah hatinya agar tidak terperosok dalam syubhat-syubhat serta godaan-godaan yang dapat menghilangkan dirinya dengan rasa malu, lisannya senatiasa terjada dengan tutur kata berkualitas serta Dzikrullah dan Malu tetap menghiasinya. Serta tingkahnya yang menunjukkan ketakwaannya kepada Rabbnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam– sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma- pernah melewati seseorang dari kalangan anshar yang tengah menasihati saudaranya mengenai rasa malu. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu itu termasuk dari keimanan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Rasa Malu Yang Baik

Rasa malu yang termasuk dari keimanan adalah rasa malu yang diupayakan karena merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa pun keadaannya, seorang yang punya rasa malu secara tabiat dan kepribadian, memiliki modal dasar untuk menuju rasa malu yang diupayakan karena merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika rasa malu itu dicabut dari seseorang, baik rasa malu secara tabiat dan kepribadian maupun rasa malu yang memang disyari’atkan, maka akan lenyap berbagai kebaikan dari dirinya. Dia akan jatuh pada perbuatan-perbuatan yang buruk dan jelek, baik secara hukum syar’i maupun secara adat kebiasaan manusia. Hari ini kita sangat mudah menyaksikan saudari-saudari muslimah kita yang tampak enteng dengan hiasan kemaksiatan yang dilakukan tanpa adanya rasa malu sediktpun.

Rasa Malu Yang Buruk

Namun disana sesungguhnya ada rasa malu yang tercela. Rasa malu yang tercela –sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah dan yang selainnya- yaitu rasa malu yang menghalangi seseorang untuk menunaikan hak dan kewajiban. Seseorang merasa malu dalam menuntut ilmu sehingga dia mengalami kebodohan dalam agamanya. Seseorang merasa malu untuk beribadah kepada Allah sehingga dia tidak menunaikan kewajibannya terhadap Allah. Seseorang merasa malu untuk menunaikan hak dirinya, hak keluarganya, hak kaum muslimin. Maka semua rasa malu itu adalah rasa malu yang tercela. Karena rasa malu yang seperti ini merupakan kelemahan dan kecerobohan. (lihat Fathul Baari 3/138). Maka sebagai Muslimah yang cerdas, hendaknya kita menghindari diri dari rasa malu yang tidak menguntungkan bagi kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sedangkan yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Rasa malu itu tidak membawa kecuali kepada kebaikan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

yaitu rasa malu yang membawa kepada keimanan serta tidak melalaikan hak dan kewajiban. Lalu mengapa rasa malu yang menghalangi seseorang dari kebaikan disebut sebagai rasa malu? Hal itu karena rasa malu ini menyerupai rasa malu yang yang disyari’atkan. Padahal hakekatnya, rasa malu yang menghalangi dari kebaikan adalah tercela di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manfaat Rasa Malu

Maka muslimah yang mempunyai rasa malu akan terhalangi dari perkara-perkara yang buruk dan jelek, baik rasa malu yang berlaku secara tabi’at maupun rasa malu yang lahir karena keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita mau memperhatikan kondisi dan keadaan manusia secara cermat, niscaya kita akan mendapati realita bahwa berbagai keburukan dan kejelekan terjadi, baik yang berupa kekafiran, kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar, dikarenakan mereka telah kekurangan bahkan kehilangan rasa malu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika rasa malu dengan kedua jenisnya telah hilang dari seseorang maka tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan darinya. Bahkan bisa jadi dirinya telah berubah menjadi syaithan yang terkutuk.

Kita memohon kepada Allah keselamatan dan keampunan dan menjadikan diri kita sebagai Muslimah yang cantik dengan rasa Malu. Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi :
“Kemulian Rasa Malu”, Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani.

Oleh : Fauziah Ramdani
Mahasiswa semester akhir Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Jurusan Anthrpologi Pembangunan – Universitas Hasanuddin

Bahagianya Jadi Muslimah!

Muslimahzone.com– KAUM feminis bilang susah jadi muslimah, lihat saja peraturan di bawah ini :

1. Muslimah, auratnya lebih susah dijaga daripada pria.

2. Muslimah, perlu meminta izin dari suaminya jika hendak keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.

3. Muslimah, haknya sebagai saksi lebih kecil daripada pria.

4. Muslimah, menerima harta warisan lebih kecil daripada pria.

5. Muslimah, harus menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.

6. Muslimah, wajib taat kepada suaminya tetapi suami tidak wajib taat pada isterinya.

7. Muslimah, talaknya terletak di tangan suami dan bukan padanya.

8. Muslimah, kurang dalam beribadat karena masalahhaid dan nifas yang tak ada pada pria.

Tidak heran kaum feminis tidak capek-capeknya berkampanye untuk “MEMERDEKAKAN MUSLIMAH”.

Pernahkah kita lihat kenyataan di balik itu?

Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik, sudah pasti intan permata tidak akan dibiar tergeletak bukan? Itulah ibaratnya seorang muslimah.

Muslimah wajib taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

Muslimah menerima harta warisan lebih sedikit dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerimanya, perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anaknya.

Muslimah bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk Allah di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan bertanggungjawab atas 4 wanita: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

Seorang wanita, tanggungjawab dibebankan kepada 4 orang lelaki: suaminya, ayahnya, anak lelakinyadan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja :

– sholat 5 waktu

– puasa di bulan Ramadhan

– taat suaminya

– menjaga kehormatannya

Seorang lelaki perlu pergi berjuang di jalan Allah, tetapi wanita jika taat akan suaminya
serta menunaikan tanggungjawabnya kepada Allah akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berjuang di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.

Jadi, mengapa tidak ada alasan jadi istimewa untuk jadi Muslimah!

sumber: Islampos.com

(zafaran/muslimahzone.com)

Olahraga Untuk Muslimah

Secara umum tidak ada keterangan ilmiah yang membatasi wanita dalam berolah raga.

Islam juga tidak melarang , bahkan menganjurkan wanita-wanita muslimah untuk berolah raga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajak Aisyah radhiyallahu ‘anha berlomba lari, sebagaimana Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata :

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajakku lomba lari dan aku mengalahkannya. Kemudian aku berdiam diri sampai aku menjadi gemuk. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajakku lomba lari dan beliau mengalahkanku. Beliau bersabda : ‘Ini sebagai balasan dari lomba yang lalu.’”

Kita bisa melakukan olah raga apa saja (1). Secara umum tidak ada pembedaan ini olah raga maskulin (sehingga hanya cocok untuk pria)  dan ini olah raga feminin (sehingga hanya cocok untuk wanita). Karena tujuan olah raga bermuara pada satu tujuan yaitu mencapai kondisi tubuh yang fit. Tidak terkotak-kotak berdasarkan jenis kelamin karena masing-masing olahraga memiliki karakteristik. Sebagai contoh, renang sangat baik untuk melatih kekuatan paru-paru, sehingga penderita asma-baik pria atau wanita- dianjurkan rutin olah raga renang.

Ketika muncul pertanyaan “Apa sih olahraga yang cocok buat muslimah?”, maka jwabannya bisa bervariasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Namun, ada panduan penting dalam memilih yaitu:

  1. Niatkan sebagai sarana memperbaiki kualitas ibadah kita kepada Allah ta’ala. Baik itu ibadah dalam artian khusus (misal, shalat, dll) atau ibadah dalam artian umum (misal, suami mencari nafkah, istri mengurus rumah, dll)
  2. Sesuaikan dengan kondisi fisik saat itu. Jika kita pemula atau baru sembuh dari sakit, pilih olah raga yang ringan, seperti stretching (peregangan), jalan sehat, dll. Kemudian setelah tubuh sudah beradaptasi dengan kebiasaan ini, naikkan frekuensi, variasi, ataupun tingkat berat-ringannya secara bertahap.
  3. Tentukan target yang spesifik..
    Contoh target kurang spesifik: “Tubuh saya jadi lebih segar”
    Contoh target spesifik:“Satu bulan ke depan saya harus kuat jalan kaki 1 km dalam 3 menit”
  4. Sesuaikan dengan minat. Kalau tidak suka olah raga air, renang bisa diganti dengan senam pernafasan untuk melatih kekuatan paru-paru. Tenis bisa diganti bulu tangkis, dll.

Apapun pilihan olah raga kita, pastikan ketika menjalani olahraga itu dengan niat lurus, aurat dan kehormatan kita sebagai muslimah tetap terjaga dan terpelihara.

***

(1)  Pilah baik-baik antara olah raga yang memberi efek positif bagi vitalitas tubuh dan olah raga secara penamaan saja. Misal, jogging termasuk olahraga yang positif, adapun tinju (saya kira) lebih dominan kekerasannya dari pada olah raga, meskipun umum tinju dikategorikan sebagai olah raga.

artikel muslimah.or.id

Penulis: Ummu Hatim Luniet Anggrieta, S. Ked