JANGAN REMEHKAN PRESTASI ABK!

Setiap anak lahir dengan karakter dan keunikannya.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Antara lain tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab dari disfungsi otak, mulai dari masa kehamilan ibu (kurang gizi, merokok, mengalami pendarahan), saat melahirkan (kelahiran yang sulit, lahir premature), atau saat bayi lahir (tidak langsung menangis, nampak biru, pucat, kuning) dan setelah bayi lahir (mengalami radang otak atau cedera kepala).

Setiap individu hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan, kecerdasan, bakat, minatnya, latar belakang dan lingkungan fisik serta sosial masing-masing.

Anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian lebih untuk bisa berprestasi dengan normal. Mereka juga generasi masa depan bangsa yang harus diperhatikan. Anak-anak yang berkebutuhan khusus itu tidak boleh dianggap sebagai generasi yang hilang atau pun anak yang “tidak berguna” dan menjadi “beban” karena pada kenyataannya tidak sedikit anak-anak berkebutuhan khusus yang mampu menunjukkan prestasi yang luar biasa seperti siswa ABK yang mejuarai catur tingkat dunia dalam olimpiade catur di Yunani. Kemudian di kota Semarang, seorang anak hiperaktif yang mengarah kepada autisme bernama Kharisma Rizki Perdana menunjukkan bakat luar biasa dalam daya ingat. Kharisma Rizki dapat mengulang sebagian pidato Ibu Negara saat meresmikan pamugaran Lawang Sewu, ibu kota di seluruh Indonesia, plat nomer, nama bandara dan lain sebagainya. Dilanjutkan oleh Cahyo, seorang anak dengan tubuh kerdil yang memiliki diagnosis lumpuh layu sehingga sehari- harinya harus berada diatas kursi roda dapat membuat design arsitektur dengan empat dimensi yang mengalahkan buatan orang dewasa dan masih banyak lagi anak berkebutuhan khusus berbakat, prestasi- pretasi yang membanggakan kita semua bukan???

Namun pada kenyataanya, perlakuan masyarakat berbanding terbalik terhadap segala perjuangan yang ditorehkan untuk mengukir prestasi oleh anak berkebutuhan khusus. Mereka banyak dijumpai di sekolah dan terkadang mereka dicap sebagai anak yang “bodoh” atau anak yang sulit diatur. Terlebih lagi paradigma dari masyarakat saat ini terhadap anak berkebutuhan khusus. Anak-anak yang mengalami gangguan mental dan perilaku ini sering disalah mengerti, mereka dilihat sebagai orang yang memiliki keterbatasan dibandingkan dengan keistimewaan atau potensi.

Kondisi tersebut tentunya membawa dampak langsung maupun tidak langsung terhadap tumbuh kembang ABK, bahkan terhadap keluarganya (kedua orangtua). Pandangan atau penilaian yang salah dari lingkungan terhadap ABK dan keluarganya merupakan tantangan terbesar selain kecacatan yang disandang oleh ABK itu sendiri dan dampaknya dapat dirasakan langsung oleh yang bersangkutan beserta keluarganya. Dampak yang jelas sering ditemui adalah terhadap konsep diri, prestasi belajar, perkembangan fisik, dan perilaku menyimpang. pandangan negatif dari masyarakat terhadap kecacatan menyebabkan citra diri yang negatif dari ABK.

Begitu halnya, nasib yang lebih mengharukan adalah anak berkebutuhan khusus yang tidak mampu atau memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang rendah. Keinginan untuk mengasah keterampilan dan meningkatkan kemandirian sesuai dengan tingkat kemampuan anak diurungkan karena keterbatasan dana. Tidak bisa dipungkiri bahwa biaya sekolah dan terapi untuk anak berkebutuhan khusus di Indonesia relatif mahal. Pada akhirnya, hilanglah kesempatan mereka untuk bisa merasakan keceriaan, kemandirian, kepedulian dan ketulusan seperti yang didapatkan anak normal pada umumnya. Maka dari itu, diperlukan partisipasi dari setiap elemen masyarakat untuk mengembangkan secara optimal anak berkebutuhan khusus agar dapat melakukan fungsi sosialnya secara wajar dan berguna bagi diri sendiri. Menunjang tujuan tersebut maka dibutuhkan kolaborasi yang kompak dari semua aspek masyarakat untuk mengandeng anak berkebutuhan khusus bersama – sama agar kelak dapat mengharumkan nama Negeri tercinta ini dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s