Kisah ABK Yang Selalu Tegar

Merasa sedih melihat orang yang tak bisa mendengar dan berbicara.

Disaat bertemu, canda tawanya serasa terpendam ditelan bumi karena dikucilkan orang-orang sekitar.

Inilah Kak Susi, seorang remaja berusia 24 tahun ini adalah seorang tuna rungu, beliau dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu, Nama lengkapnya adalah Susi Hasanah, beliau lahir di Sumedang, 01 September 1987 dan di daerah Nangerang Joglo 02/05 desa Mekarjaya, Sumedang Utara, Sumedang. Beliau sudah putus sekolah semenjak duduk dibangku SMP.

Banyak pengalaman yang tak ternilai harganya disaat bersamanya, lama kelamaan canda tawanya bagaikan matahari yang selalu ceria menerangi indahnya bumi ini, tapi disisi lain banyak sekali duka yang beliau lalui bagai hantaman yang tajam menusuk hatinya,,,

Sungguh disaat orang tuanya menceritakan tentang kehidupannya, air mata seakan jatuh, bahkan tumpah menuju lapisan tanah. Hati ini tercabik sangat ketika masih banyak orang yang kurang daripada saya. Tapi saya malah menyia-nyiakan yang sudah diberikan Tuhan pada saya ini.

Dahulu beliau bersekolah di SLBN Cimalaka, Sumedang. Beliau sangat aktif dalam kegiatan sekolah, buktinya saja dia pernah menjabat sebagai mayoret di grup drumband SLB-nya dan pernah menjadi pasukan pengibar bendera. Tapi takdir berkehendak lain,,, orang tuanya hanyalah seorang buruh dan tak bisa membiayai sekolahnya,

Disaat saya mendengarnya pun, saya merasa miris sekali, banyak orang yang membutuhkan pendidikan tapi saya hanya menghambur-hamburkan uang pendidikan. Sungguh terlalu,,,😦

Lalu saya bertanya dengan terbata-bata memakai bahasa isyarat yang tak tahu apakah itu benar atau tidak, “kegiatan olahraga di sekolah apa saja?”, lalu beliau menghindari pertanyaan itu, karena minder itu sudah jadul. Akan tetapi disaat orang tua dan saudaranya menjawab, di waktu sekolah dulu olahraganya seperti anak normal biasa, tidak ada yang dibedakan.

Akan tetapi, anak dari Pak Sofiandi ini sekarang bekerja di Pabrik Kunkue bagian packing. Menurut saudaranya disaat beliau bekerja, beliau itu tekun dan ulet. Pernah suatu ketika jam pulang kerja sudah datang, akan tetapi barang yang harus dibungkus itu masih banyak. Kak Susi dengan hiraunya mengabaikan yang lain yang berhamburan pulang, dan masih mengepak barangnya dengan teliti. Sungguh keuletannya tidak bisa dianggap remeh dan mungkin lebih baik daripada orang-orang normal dan saya tak bisa berhenti mengucap syukur.

Tapi, waktu yang saya punya tidak banyak. Saya harus pulang dan berpisah dengan Kak Susi. Ternyata waktu berjalan dengan cepat.

Akhirnya, saya pun mendapat hikmah dibalik semua ini. Ternyata disaat kita menilai seseorang, jangan menilai dari luar/fisiknya tapi dilihat dari hatinya.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s