Wahai Muslim-Muslimah yang Belum Bisa Menahan Pandangan

Abu Muhammad Sahl bin Abdulloh At-Tastari berkata: “Perbuatan-perbuatan yang baik mampu dikerjakan oleh orang yang sholih dan orang yang fajir, tapi tidak akan sanggup meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat kecuali orang yang shiddiq  (benar keimanannya).”

Dengan menghindari memandang yang harom, anda berusaha menggapai kedudukan shiddiqiyah, adapun peran saya adalah memudahkan anda menyusuri jalan untuk menggapainya dengan menyebutkan hal-hal berikut:

1.     Bandingkan!

Abu Ishmah rohimahulloh berkata: “Aku pernah bersama Dzun Nun, sedangkan dihadapannya duduk seorang pemuda tampan. Dzun Nun mengajarinya. Lantas lewatlah seorang wanita cantik lagi sopan. Pemuda tersebut mencoba mencuri pandangan kepadanya. Dzun Nun sadar, lalu memalingkan kepala si pemuda itu dan berkata:

Tinggalkanlah wanita yang dibentuk dari tanah dan air.

Dan berangan-anganlah bersanding dengan bidadari suci.

Barangsiapa yang hari ini gemar memperhatikan wanita-wanita jelita, hendaklah ia membandingkan mereka dengan para bidadari. Agar tahu perbedaan antara wanita-wanita itu dengan para bidadari.

Bidadari surga, bagaimanakah bidadari surga itu? Bila ia menampakkan diri, maka cahaya matahari mengalir dari paras ayu wajahnya. Bila tersenyum, maka kilat bersinar dari gigi-gigi putihnya. Andaikata ia muncul di dunia, maka bau harumnya memenuhi ruangan antara langit dan bumi, membuka mulut-mulut makhluk untuk mengucapkan tahlil, takbir dan tasbih. Seluruh timur dan barat bersolek menyambutnya. Tak satu matapun lelah melihatnya. Cahaya matahari tertutupi, sebagaimana matahari menutupi cahaya bintang. Dan seluruh makhluk yang ada di jagad raya ini pasti beriman kepada Alloh Yanng Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Kerudung yang menyembunyikan kecantikannya itu lebih berharga dibanding dunia seiisinya, lantas bagaimana dengan kecantikan itu sendiri? Dagingnya memancarkan sinar dalam balutan 70 lembar kain sutra, lantas bagaimana dengan cahayanya? Andaikata Alloh Ta’ala tidak menetapkan penduduk surga itu tidak mati, pastilah mereka mati karena terkagum-kagum pesona kecantikannya. Pernahkah engkau membayangkan seorang wanita yang apabila tertawa di hadapan suaminya, maka surga berkilauan gemerlap cahaya karena tertawanya? Dan apabila ia pindah dari satu istana ke istana lain, engkau mengatakan: “Matahari ini (Bidadari) berpindah dari gugusan orbitnya”. Sungguh semua keindahan ini nyata, namun engkau masih terpedaya oleh bangkai?!

Wahai orang  yang telah mendatangi transaksi menahan pandangan! Ada dua pandangan yang tidak bisa bersatu; barangsiapa menahan pandangannya dari wanita di dunia, Ia pasti melepaskan pandangan untuk menikmati bidadari di akhirat. Dan barangsiapa mengumbar pandangan di dunia, maka ia tidak mendapat pandangan di akhirat. Silahkan memilih! Bila anda mau, maka berikanlah mahar seperti yang telah ditunjukkan Abu Darda’, ia berkata: “Siapa yang menahan matanya dari memandang yang harom, maka ia akan dipersandingkan dengan bidadari yang di cintai.” (lihat Risalah Mustarsyidin: 119).

2.     Susuri jalan mereka!

Hiruplah semerbak wewangian kehidupan kaum salaf. Puaskan dahagamu dengan menelan siroh (pejalanan) mereka. Hidupkanlah hatimu dengan mengingat mereka. Tiru dan samailah mereka. Mungkin anda akan sanggup menyamai bentuk yang sebenarnya.

Dahulu Robi’ bin Khutsaim rohimahulloh – seorang murid Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu’anhu yang paling cemerlang- selalu menahan pandangannya. Suatu kali, serombongan wanita melewatinya, ia merunduk sehingga para wanita tersebut mengiranya buta. Sehingga mereka berlindung kepada Alloh Ta’ala dari kebutaan.

Manakala Daud bin Abdillah diburu sebagian pemimpin Basroh, ia bersembunyi dirumah salah seorang sahabatnya, lalu ditempatkan dirumahnya. Shahabat itu memiliki isteri bernama Zarqo’, ia seorang wanita yanng cantik. Suatu ketika si shahabat pergi untuk menyelesaikan suatu keperluan dan berpesan kepada isterinya agar bersikap santun serta menjamu dengan baik Daud. Ketika tiba dirumah, ia berkata: ‘Bagaimana engkau melihat Zarqo? Daud balik bertanya: ‘Siapa Zarqo’ itu? Ia menjawab: ‘Ia ibu rumah tangga ini? Daud menjawab: ‘Saya tidak tahu, apakah ia Zarqo’ (sibiru) atau Kahla’ (si wanita bermata hitam).’

Ketika shahabatnya bertemu Zarqo’ ia berkata kepadanya: “Aku berpesan agar engkau bersikap sopan kepadanya dan melayaninya, tapi engkau tidak melakukan. Ia menjawab: ‘Engkau telah berpesan kepadaku bersikap sopan terhadap lelaki yang buta. Demi Alloh Ta’ala, sedikitpun ia tidak mau memandangku.” (lihat Dzammul Hawa: 77)

Simaklah keajaiban berikutnya yang lebih luar biasa, yakni ucapan yang keluar dari Muhammad bin Sirin rohimahulloh, ketika ia berkata: “Saya tidak pernah menggauli seorang wanita pun dalam keadaan terjaga atau tidur selain Ummu Abdillah (isterinya). Sungguh dalam tidur aku bermimpi melihat wanita, namun aku tahu bahwa ia tidak halal untukku, maka aku palingkan penglihatanku darinya.” (lihat Asy Syakwa wa Itab: 103).

Manusia-manusia seperti mereka ini adalah orang-orang suci sesuci embun, amanat menjaga kehormatan, keharaman dan harta. Sebagian mereka mengilustrasikan keadaannya sebagai berikut:

Tetanggaku tidak membahayakanku

Meskipun pintunya tidak berselambu

Aku buta bila isterinya keluar

Sampai ia masuk kembali kekamar

Telingaku tidak mendengar apa yang terjadi diantara mereka

Hingga seolah-olah telingaku menjadi tuli

3.     Sibukkan Diri Dengan Kebaikan Bila Tidak Ingin Melakukan Kebathilan

Jiwa tidak bosan berusaha, bergerak, mencari dan bekerja. Bila anda tidak menyembunyikannya dengan kebenaran, otomatis anda akan menyibukkannya dengan kebatilan. Bila anda tidak membawanya pada urusan-urusan yang luhur, pasti ia menyeret anda kedalam urusan-urusan yang hina. Bila jiwa terlewatkan gerbong kesungguhan, maka ia akan naik gerbong kemalasan. Jiwa harus memiliki tali kendali. Bila anda mengikatnya dengan tali tersebut, maka ia akan berperilaku dengan adab-adab syar’i. Namun bila anda melepaskannya, maka ia akan memperdaya anda seperti musang. Pilihlah kesibukan untuk jiwa anda. Tentukan keinginan pikiran anda, dan carilah aktivitas untuk tubuh anda.

Oleh sebab itu, Umar bin Khoththob rodhiyalloh’anhu sangat membenci waktu luang, karena ia memandangnya sebagai penggelincir pada kehinaan dan penjerumus kedalam jurang hawa nafsu. Ia berkata: “Aku benci melihat salah seorang dari kalian yang tidak mengerjakan apa-apa, tidak amalan dunia dan tidak pula amalan akhirat.” (lihat Qimatuz Zaman ‘Inda Muslimin: 68)

Sedang Ibnu Qoyyim rohimahulloh menjabarkan kandungan jiwa manusia secara mendalam, ia berkata: “Alloh Ta’ala telah menciptakan jiwa menyerupai gilingan yang berputar. Ia tidak bisa diam dan harus ada sesuatu yang digilingnya. Bila biji-bijian yang diletakkan, maka akan digilingnya. Jika debu atau kerikil yang diletakkan, maka tetap akan digilingnya. Pikiran-pikiran yang bergentayangan dalam jiwa seperti biji-bijian yang diletakkan dalam gilingan. Tidak pernah gilingan ini berhenti, bahkan harus ada sesuatu yang diletakkan di dalamnya. Diantara manusia ada yang gilingannya menggilas biji-bijian kemudian menghasilkan tepung yang berguna untuk dirinya dan orang lain. Tapi kebanyakan mereka menggiling pasir, kerikil, jerami dan semisalnya. Maka ketika tiba waktu membuat adonan dan roti, jelaslah apa yang sebenarnya yang ia giling”. (lihat Al-Fawaid: 66).

Malaikat meletakkan biji-bijian yang bermanfaat, sementara syaithon melemparkan debu dan kerikil. Syaiton tidak mungkin melemparkannya kecuali bila mendapati gilingan dalam keadaan kosong, tidak ada biji-bijian di dalamnya, sedang operatornya telah menyia-nyiakan dan tidak mau mengurusinya. Karena itulah syaithon cepat-cepat melemparkan bawaannya kedalam gilingan.” (lihat Al-Fawaid: 228-229).

4.     Rasa Takut Memadamkan Hawa Nafsu.

Kobaran api syahwat dalam hati tidak bisa dipadamkan kecuali dengan ‘air takut’. Apabila permukaan air takut lebih tinggi, maka padamlah api syahwat dan hasilnya adalah menahan pandangan. Tapi bila lebih rendah, api syahwat semakin membara dan akibatnya mengumbar pandangan. Jadi orang berakal harus memperhatikan dan mengamati dari mana sumber datangnya kelemahan. Lalu segera membenahinya sebelum kebakaran menghanguskan seluruh bagian hati dan mengeluarkan bau gosong. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga”. (QS. Ar-Rahmaan [55]: 46).

Mujahid rohimahulloh berkata: “Ia adalah orang yang apabila ingin berbuat maksiat, maka ia ingat kedudukan Alloh atas dirinya. Lantas, urung melakukannya.” (lihat Dzammul Hawa: 192).

Seorang tabi’in Ubaid bin Umair rohimahulloh, berjuluk ahli cerita Makkah. Para shahabatnya biasa menghadiri majelis petuahnya. Mereka menangis dan terharu biru dengan nasehatnya. Ia adalah profil seseorang yang kekuatan malaikatnya mampu mengalahkan kekuatan syaithonnya, rasa takutnya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala mampu menundukkan hawa nafsunya. Sehingga ia bisa menyiramkan rasa takut yang berubah taubat kepada orang-orang di sekelilingnya. Dengarkanlah kisahnya tentang seoranng wanita Makkah yang cantik jelita:

‘Ada seorang wanita cantik di Makkah, ia sudah bersuami. Suatu kali ia melihat bayangan wajahnya di cermin dan terkagum-kagum terhadap kecantikannya sendiri. Ia berkata kepada suaminya: ‘Mungkinkah ada seseorang yang melihat wajah ini dan tidak terpesona?.

Suaminya menjawab: ‘Ya, ada.’

Ia berkata; ‘Siapa?.’

‘Ubaid bin Umar’ jawab suaminya.

Ia bekata: ‘Ijinkan aku menggodanya.’

‘Aku ijinkan.’ jawab suaminya.

Selanjutnya wanita tersebut mendatangi Ubaid bin Umair sebagai orang yang ingin meminta fatwa. Ubaid berbicara dengannya di pinggir ruangan Masjidil Harom. Tiba-tiba wanita itu menyingkap penutup wajahnya bak separuh bulan. Maka Ubaid berkata kepadanya: ‘Takutlah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, wahai hamba Alloh”.

Ia berkata: ‘Sungguh saya telah tergoda denganmu. Untuk itu, lihatlah keadaanku ini.’

Ubaid menjawab: ‘Aku akan menanyakan sesuatu kepadamu. Jika engkau menjawab dengan jujur, maka aku akan mempertimbangkan keadaanmu.’

Ia berkata: ‘Apa yang engkau tanyakan kepadaku, akan aku jawab dengan jujur.’

Ubaid berkata: ‘Beritahukan kepadaku, seandainya malaikat mendatangimu untuk mencabut nyawamu, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.’

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya engkau telah dimasukkan kubur kemudian di dudukkan untuk ditanyai, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya manusia diberi catatan amal-amal mereka dan engkau tidak tahu akan menerima catatan dengan tangan kanan atau tangan kiri, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu ini?.

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya didatangkan timbangan-timbangan amal dan engkau tidak tahu akan mengambil beban amalmu dengan tangan kanan atau tangan kiri, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya engkau berdiri di hadapan Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk diinterogasi, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ubaid melanjutkannya: ‘Bertqwalah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala , wahai hamba wanita Alloh, sungguh Dia telah memberimu anugerah besar dan mempercantik dirimu.’

Kemudian wanita tersebut kembali kepada suaminya yang langsung menyambut dirinya dengan pertanyaan: ‘Hasil apa yang engkau peroleh?.’

Ia menjawab: ‘Engkau suka berbuat bathil dan kami suka berbuat bathil. Lantas wanita itu selalu menjaga sholatnya, puasa dan terus beribadah. Sampai-sampai suaminya berkata: ‘Kesalahan apa yang telah aku perbuat kepada Ubaid. Ia telah merasuk pribadi isteriku. Dulu disetiap malam ia laksana pengantin baru, namun ia telah mengubahnya menjadi ahli ibadah.’ (lihat Dzammul Hawa: 210-211)

Takut kepada Alloh adalah buah dari berbagai macam amalan ketaatan, seperti banyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, menghayati berita-berita hari Kiamat, kengerian neraka dan keadaan penghuninya, berteman dengan orang-orang yang takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala  dan mendengarkan berita-berita mereka, mengetahui kondisi oranng-orang yang terpedaya oleh iblis dan menjauhi, memandikan orang mati, menghadiri jenazah, menyaksikan saat-saat sakarotul maut, menganggap kecil amalan taat diri anda sendiri, dan mengetahui sifat-sifat Alloh dan hal-hal lain yang mampu melahirkan takut dan membangkitkan kegalauan.

5.     Perbanyaklah Puasa!

Pangkal hawa nafsu adalah satu, sebagaimana halnya pangkal kesabaran juga satu. Barang siapa yang mampu bersabar mengendailkan nafsu makannya, pasti tekadnya menguat dan ia mampu bersabar menolak nafsu melihat yang harom. Karena inilah, ada wasiat untuk berpuasa agar seorang berlatih secara suka rela untuk tidak menuruti keinginan dan nafsu hewaninya. Kemudian terus mempertahankannya agar tidak berubah dan tidak goyah. Pun, tidak dikalahkan oleh tuntutan-tuntunan naluri dan keinginan. Selanjutnya menahan pandangan akan menjadi hasil alami ibadah puasa ini dan buahnya yang muncul secara otomatis. Untuk itu Rosululloh Shollallohualaihi wa Sallam berpesan kepada orang yang belum mampu menikah:

“فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ”

..maka hendaklah ia berpuasa, karena itu menjadi perisainya.(HR. Bukhori: 5065 Dan Muslim: 1400 dan lihat Lu’lu’ wal Marjan: 884)

6.     Kenali Tipu Daya Musuh Anda!

Dalam upaya menaklukkan hati, syaithon melancarkan serbuan, memberlakukan patroli-patroli, menggempur dan menyerang. Diantara siasatnya adalah melakukan penaklukkan secara bertahap hingga mencapai tujuannya, kemudian memasukkan anda kedalam barisan tentaranya. Seumpama jaraknya seribu mil, maka ia akan memulai dengan satu langkah. Langkah ini adalah pandangan.

Ibnu Jauzi rohimahulloh berkata: “Apabila engkau melihat seekor kuda membawa penunggangnya belok ke jalan yang sempit lantas memasukinya dengan separuh tubuhnya, dan lantaran sempitnya tempat tidak bisa turun, lantas ia diteriaki, segera berbaliklah mundur sebelum kuda itu berhasil masuk. Bila si penunggang kuda itu mau mendengarkan seruan dan menarik kuda mundur satu langkah ke belakang. Maka masalahnya menjadi mudah. Tapi bila ia menunda-nunda sampai kuda tersebut masuk kemudian baru menariknya, ia pasti kesulitan dan boleh jadi ia tidak mampu mengeluarkannya.”

Demikian halnya pandangan ketika turun ke lubuk hati. Apabila orang yang bertekad kuat cepat-cepat meredam dan memutus sumbernya dari awal, maka akan mudah untuk mengobatinya. Tapi bila pandangan di ulang-ulang, berarti ia mencari-cari keindahan pemandangan dan memindahkanya kedalam hati yang kosong, lalu mematrikannya dalam hati tersebut. Tiap kali pandangan dilakukan secara kesinambungan, maka ia seperti air yang disiramkan pada pohon. Ia selalu berangan-angan sampai berhasil merusak hati, memalingkannya dari memikirkan apa yang diperintahkan dan mengeluarkan pemiliknya menuju petaka-petaka, melahirkan pelanggaran larangan-larangan dan menghembaskannya kedalam kebinasahan. (lihat Dzammul Hawa: 82).

7.     Menikahlah!

Nabi Shollallohualaihi wa Sallam bersabda:

“يَا مَعْشَرَ الشَّبَّابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ” مُتّفقٌ عَلَيْهِ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah hendaklah menikah. Karena itu lebih bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan.” (Muttafaqun ‘alaihih,Bukhori: 5065 dan Muslim: 1400 )

Bahkan Nabi Shollallohu‘alaihi wa Sallam memberi obat ampuh yang bisa menyembuhkan pengaruh pandangan harom. Diriwayatkan dari Jabir rodhiyallohu‘anhu bahwa Rosululloh Shollallohu‘alaihi wa Sallam melihat seorang wanita. Lantas beliau menghampiri Zainab yang sedang membersihkan kulit yang baru disamak, lalu beliau menyalurkan hasrat beliau. Kemudian keluar menemui para shahabat dan bersabda:

“إِنَّ المَرْأَةَ تُقْبِلُ فِيْ صُوْرَةِ الشَّيْطَانِ وَتُدْبِرُ فِيْ صُوْرَةِ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةُ فَلْيَأْتِيْ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِيْ نَفْسِهِ”

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk syaithon dan pergi dalam bentuk syaithon. Maka, apabila salah seorang kalian melihat wanita, hendaknya ia segera mendatangi isterinya karena hal itu bisa meredam gejolak yang ada di dalam dirinya.” (HR. Ahmad dan lihat As-Silsilah Ash-Shohihah: 235)

Imam Nawawi rohimahulloh berkata: “Beliau melakukan hal ini, tiada lain untuk memberi penjelasan kepada mereka dan menunjukkan langkah yang harus mereka ambil. Beliau mengajari mereka melalui perbuatan dan sabda.” (lihat Syarah Nawawi ‘ala Shohih Muslim: 5/311).

Mungkin satu pandangan sanggup menggejolakkan nafsu seorang laki-laki. Dan nafsu ini tidak akan tenang kecuali dengan melaksanakan pesan Rosululloh Shollallohu‘alaihi wa Sallam, yakni menggauli isteri. Karenanya, ada ancaman keras bagi isteri yang enggan melayani hasrat suami tanpa alasan. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“إِذَا بَاتَتِ المَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا المَلَائِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ”

“Apabila seorang wanita tidur menjauhi ranjang suaminya, para Malaikat melaknat dirinya sampai ia kembali.” (lihat Lu’lu’ wal Marjan: 912)

8.     Alloh Selalu Melihat Anda

Alloh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

 Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.(QS. Al Mu’min [40]: 19)

Ibnu Abbas rodhiyallohuanhu berkata: “Ada seorang laki-laki berada ditengah-tengah orang banyak, lantas lewatlah seorang wanita. Laki-laki itu memperhatikan dirinya, ia melihat si wanita. Dan, jika ia takut mereka memergokinya, maka ia menahan pandangan. Sungguh Alloh telah mengetahui dalam hati kecilnya bahwa ia sangat ingin melihat aurot wanita tersebut.” (lihat Dzammul Hawa: 81)

Orang malang ini menipu dirinya sendiri, tapi mengira ia mampu menipu Robbnya. Wahai saudaraku, sikap anda yang merasa selalu diawasi oleh Alloh  Subhanahu wa Ta’ala  terjelma dalam perasaan bahwa pandangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala  lebih dekat kepada anda daripada pandangan anda dari hal-hal yang harom. Sebab, Dia lebih dekat kepada dirimu dibanding urat nadi. Para Malaikat-Nya berdiri mengawasi anda di sisi kanan dan kiri. Amal-amal perbuatan dicatat, pandangan-pandangan diintai dan besitan-besitan hati ditulis, bahkan diukir. Alloh Subhanahu wa Taala  berfirman:

 Dan tidaklah Robbmu lupa.”(QS. Maryam [19]: 64)

Dahulu, putri Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh memiliki satu butir permata yang dipergunakan sebagai anting telinga. Ia tidak memiliki satu butir lainnya yang bisa dipasang di telinga yang satu. Lantas ia mengirim utusan kepada Umar untuk memintanya memberikan satu butir permata. Maka, Umar mengirimnya dua bongkah bara api, dan berkata kepadanya: ‘Bila engkau sanggup mengenakan kedua bara api ini di telingamu, aku akan memberimu permata yang lain.’ (lihat Siroh Umar bin Abdul Aziz: 156)

Dan kami berkata kepada anda wahai orang yang gemar mengumbar pandangan: ‘Bila anda sanggup mengganti dua mata anda dengan dua mata bola api, maka biarkanlah kedua mata itu menikamti leher-leher nan cantik.’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s