Raih Tangannya, Wujudkan Citanya!

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya akan mencoba mengemukakan pendapat saya mengenai pandangan islam dalam menyikapi disabilitas. Semoga artikel yang saya buat ini bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. Amin.

 

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka)… Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah ) dari rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya (yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri), salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (Q.S An-Nur 24:61)

 

Didalam ayat ini jelas bahwa islam tidak membeda-bedakan seorangpun walau mereka tidak seperti kebanyakan orang seperi biasanya. Seperti semboyan negara kita yaitu Bhineka Tunggal Ika “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Islam tak mengajarkan siapa yang berbeda mereka harus dihiraukan. Justru dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk merangkul mereka dan berbuat baik serta member salam kepada mereka.

Pernah suatu ketika Rasulullah SAW berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Kemudian datanglah Ibnu Ummi Maktum (Abdullah bin Ummi Maktum), seorang sahabat yang buta dan berharap agar Rasulullah SAW membacakan kepadanya ayat-ayat Al Qur’an yang telah diturunkan. Tetapi Rasulullah SAW bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum. Kemudian Allah menurunkan Surat ‘Abasa sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap Abdullah bin Ummi Maktum.

 

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali janganlah (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan adalah suatu peringatan.”(Q.S ‘Abasa 80:1-11)

 

Lagi-lagi Allah SWT memerintahkan kepada kita agar jangan mengabaikan atau meremehkan seseorang yang memiliki kekurangan, baik fisik maupun psikologi. Memiliki anak disabilitas bukanlah sebuah “kutukan” atau sebuah “aib”. Pada dasarnya mereka sama dengan anak-anak lainnya, mempunyai kekurangan dan kelebihan.

 

Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl: 90)

 

Rasulullah SAW bersabda, “Orang orang sebelum kalian telah hancur; karena apabila mereka yang terhormat mencuri, mereka akan membiarkannya, tetapi apabila ada orang lemah yang mencuri, mereka menerapkan hukum kepadanya.” (HR Al-Bukhari)

 

“Jika seorang anak diperlakukan karena kekurangannya, maka dia tidak akan mampu mengatasi masalahnya dengan lebih baik bahkan akan cenderung makin “mengkerdilkan” diri, tapi jika anak tersebut diperlakukan karena kelebihannya, dia akan lebih mampu untuk menghargai diri dan berkembang maksimal dengan kelebihannya itu.“ Apakah hanya karena kekurangan, mereka dikucilkan, dipasung, dan diasingkan? Sehingga mengorbankan kesenangan, keceriaan, dan kebahagiaan mereka bermain dan bercanda tawa ditempat yang kita pijak ini? Ingatlah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita supaya kita selalu berbuat kebaikan dan adil di setiap menghadapi masalah.

Saudaraku yang baik hatinya, saya mohon raihlah tangannya dan wujudkan impiannya. Karena kalau bukan dimulai dari diri kita sendiri sebagai calon pendidik, siapa lagi yang akan membantu mereka mewujudkan impiannya dan menggiring mereka ke langkah yang lebih jauh lagi?

Biarlah orang awam berpikir bahwa kita adalah orang “gila” yang berani-beraninya mengajar anak-anak yang “aneh”. Karena Allah SWT berfirman :

 

“… Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath 48:29)

 

Cantiknya iman seseorang dilihat dari perbuatannya dan pengabdiannya hanya karena Allah SWT. Semoga kita semua dilindungi oleh-Nya dan diberi kekuatan untuk menghadapi segala cobaan yang berdatangan. Amin.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s